Arie's posts with tag: article
What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Betawi chef adds zest to native dish
City News - August 27, 2004
Leony Aurora, The Jakarta Post/Jakarta
Nasun's pecak is richer, nuttier and arguably more delicious than the original Betawi (native Jakartan) dish. "I have modified it and used my own recipe for the sauce," he said on Thursday.
True Betawi pecak, according to the 71-year-old man, is baked fish in a light sauce flavored with sauteed ginger, onion and chili. But, Gurame kuah pecak a la Nasun is fried gurame (a freshwater fish with big bones) in a thick sauce of coconut milk, with ground peanuts, candlenuts, chili, cashew nuts and turmeric.
"Nobody makes a sauce like mine," he boasted.
The sauce is full-bodied, spicy and quite hot, while the cashew nuts contribute to its uniqueness.
"Nasun is a native Jakartan, so I think his pecak can be called original," said culinary observer Arie Parikesit. "In my opinion, the sauce has more of a Sundanese (West Java) taste."
Debates over authenticity aside, Nasun's diner on Jl. Moh. Kafi II in Jagakarsa, South Jakarta, emits an atmosphere similar to a lenong (traditional Betawi comedy) show.
Pak Haji -- the honorific used for a man who has gone on a haj -- greets everyone who steps into his diner, makes a joke or two and teases his customers.
Those who are not familiar with his style are likely to pause, wondering whether to respond. "Just kidding..." Nasun will finally burst out, with a laugh that is reverberated by the others.
Another traditional Jakarta dish that he offers at the diner is gurame kuah pucung, which is fried gurame in dark brown sauce. Pucung -- or kluwek, the name by which some people know it -- is the seed of the kepayang tree, which contains a black, pasty substance that imparts a distinctive flavor.
Before being served, the fried fish is marinated in the sauce for a few minutes on the stove. One gurame, served with the sauce, fried onion, lime and a plate of warm rice costs Rp 25,000 (US$2.69).
The fish dishes will be featured on Aug. 29 in the Heritage Food in Heritage City event at the National Archives building on Jl. Gajah Mada, Central Jakarta.
Nasun first set up a restaurant in front of his house in 1982. He tried selling the original gurame kuah pecak but it was unsuccessful until he modified the sauce and added gurame kuah pucung to the menu two years later. They became his signature dishes.
He imposed a special rule on college students who frequent the diner: Only half a portion is allowed, because "their money has to last them a month."
"Pak Haji's place is the only place where we can eat bananas -- as many as we like -- for free," said Parlin Sidabutar, a former student who was having lunch at the diner.
Now, Nasun can sell 40 kilograms of gurame fish in less than four hours, between 10 a.m. and 2 p.m.
"An elder of the village told me once to upgrade my business and open branches at star-rated hotels," said Nasun. "But I don't want to.
"What's important is (my diner) stays open and it's not going anywhere. I do my prayers here, I receive my guests here. I don't worry 'the woman' (his wife) by staying home, here."
Artikel tulisan Sinta Dewi, Programme Officer UNDP Indonesiae, Millenium Development Goal Support Unit
KOMPAS-Swara
Senin, 19 Juni 2006
Gempa Bumi dan Rentannya Nasib Perempuan
Sinta Ratna Dewi
Membaca berita mutakhir sekitar bencana gempa di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, besar kemungkinan perempuan, anak-anak, dan orang tua menjadi korban utama. Ini bisa dimengerti, karena yang rusak umumnya perumahan dan mereka sedang di rumah ketika bencana terjadi.
Gempa di Afganistan pada 1998 menunjukkan, laki-laki lebih banyak selamat karena mereka sedang bekerja di ladang atau berada di masjid ketika gempa terjadi (Fordham, 2000).
Gempa dan tsunami di Aceh juga membuktikan, korban meninggal perempuan 30-40 persen lebih banyak dibandingkan laki-laki, karena waktu itu perempuan kebanyakan sedang bekerja di rumah (Oxfam, UNFPA, 2005). Riset Surya Women Development Centre di Batticaloa, Sri Lanka, menunjukkan, 80 persen korban meninggal adalah perempuan dewasa dan remaja.
Atas data itu, artikel ini coba menyarankan perlunya pengarusutamaan jender dalam kebijakan dan praktik respons bantuan kemanusiaan. Dalam respons tanggap darurat, sering kali pertimbangan jender mudah diabaikan.
Kerja tanggap darurat sering kali didominasi tyranny of the urgent. Korban bencana dipandang sebagai entitas tunggal tanpa melihat ketimpangan relasi sosial, ekonomi, dan politik antarjenis kelamin, bahkan kelas maupun usia pra-bencana.
Di Indonesia, hampir tidak ada analisis jender dalam penanganan bencana. Padahal telah berkembang gender aware humanitarian response. Inti pemikirannya, respons tanggap darurat demi menyelamatkan dan melindungi nyawa harus didasarkan pada penghormatan terhadap hak asasi manusia: laki-laki dan perempuan.
Pemikiran tersebut berkembang karena norma setempat yang mengatur peran laki-laki dan perempuan, amat berpengaruh pada penanganan pascabencana. Untuk itu, pendataan jumlah korban dan penyintas laki-laki dan perempuan merupakan kerja tanggap darurat paling awal.
Mengenali kebutuhan
Bencana berdampak beda bagi perempuan dan laki-laki. Maka, kuncinya adalah mengenali kebutuhan dan perspektif mereka.
Dampak buruk bencana bukan saja fisik, sosial, ekonomi, dan psikologis, tetapi juga perubahan peran jender laki-laki dan perempuan. Suami yang kehilangan istri harus beralih mengambil peran domestik, istri yang kehilangan suami harus menjadi kepala keluarga baru.
Dalam situasi bencana, beban kerja domestik perempuan sering meningkat, terutama untuk mencari bantuan dan mengurus anak, orangtua, atau mereka yang sakit. Sering juga distribusi bantuan dan pemulihan ekonomi hanya menyasar laki-laki yang umumnya dianggap sebagai kepala keluarga. Akibatnya, kesempatan perempuan memperoleh bantuan dan pendapatan demi kelangsungan hidup menyempit.
Berkat statistik terpilah, respons kemanusiaan di Aceh setelah tsunami berkontribusi besar terhadap meningkatnya kesempatan dan pilihan perempuan, terutama janda dan kepala keluarga perempuan, dalam aktivitas pemulihan ekonomi. Pemulihan ekonomi lewat program cash for work menurut data Organisasi Buruh Internasional melibatkan sekitar 40 persen perempuan.
Penulis mencatat, di beberapa tempat antara lain di Calang, bahkan disediakan cash for work khusus untuk perempuan. Ini mengingat jumlah penyintas perempuan yang harus menjadi kepala keluarga meningkat tajam.
Berkat analisis jender atas peran perempuan dan laki-laki dalam ekonomi, beberapa program kreatif dan nontradisional turut diperkenalkan, seperti usaha batu bata bagi perempuan, pelibatan perempuan dalam pembangunan kampung, teknologi untuk perempuan petani, dan sebagainya.
Kesadaran tentang pentingnya pengarusutamaan jender dalam penanggulangan bencana dan tsunami ditekankan pada sesi ke-49 UN Commission on the Status of Women 2005. Penanganan bencana belum cukup menjawab persoalan jender yang terkait dengan situasi pascatsunami. Untuk itu satu resolusi dikeluarkan demi mengintegrasikan jender ke dalam manajemen bencana oleh negara dan aktor lainnya (UN Economic and Social Council, 2005).
Analisis jender
Sekarang, proses penilaian untuk respons gempa bumi di DIY dan Jawa Tengah masih dilakukan. Pada tahap ini penting melibatkan perempuan atau orang dengan keahlian jender dalam tim.
Analisis hasil penilaian digunakan menggambarkan perbedaan kebutuhan perempuan dan laki-laki serta penyebabnya. Sementara hasil konsultasi terhadap laki-laki dan perempuan dipakai mengidentifikasi kemungkinan dampak atas intervensi yang direncanakan. Misalnya, perencanaan pembangunan kampung yang melibatkan perempuan dalam menentukan lokasi pembangunan air dan fasilitas publik berpotensi mengurangi beban kerja perempuan dalam mencari air.
Berdasarkan analisis itulah disusun respons yang dapat menjawab kebutuhan laki-laki dan perempuan serta meningkatkan keadilan di antara mereka. Program didesain untuk merespons pembangunan fisik dan juga sosial, misalnya perencanaan berbasis komunitas.
Program advokasi tanggap darurat harus pula memperkuat kesetaraan perempuan dan laki-laki. Sebagai contoh, advokasi hak perempuan atas tanah dan warisan di Sri Lanka dan Aceh pascatsunami. Tak kalah penting, badan koordinasi penanggulangan bencana perlu mengeluarkan petunjuk tentang pengarusutamaan jender dalam program dan pembiayaan respons bencana.
Bila pemikiran ini dipertimbangkan, respons kerja kemanusiaan diharapkan tidak akan melemahkan peran, posisi, dan kesempatan bagi perempuan (dan laki-laki). Respons juga akan lebih berdampak karena kebutuhan, kerentanan, kapasitas, dan strategi bertahan perempuan dan laki-laki korban bencana telah dipahami.
Sinta Ratna Dewi Mendalami masalah jender dan respons kemanusiaan.
Lezatnya Nasi Ulam dari jantung pecinan Jakarta
Naskah dan Foto Oleh:
Arie Parikesit
Daerah Jalan Kemenangan III dekat Jalan Gajah Mada terletak di tengah-tengah kawasan yang sering disebut sebagai Kota . Kawasan Kota yang juga bisa dibilang pecinannya Jakarta mempunyai banyak sekali kekayaan di bidang kuliner yang tak terlepaskan dari kehidupan masyarakat Jakarta. Salah satu dari kekayaan kuliner itu adalah Nasi Ulam Betawi di halaman Kelenteng Toasebio.
Dimulai pada tahun 1964, saat itu seorang pedagang nasi ulam keturunan Cina asal Kampung Bebek (masih di daerah kota) bernama Cek Lam Seng mulai memperluas usaha nasi ulamnya dengan mempekerjakan tiga orang pemikul bernama Syarif, Aheng dan Misjaya. Ketiga orang pemikul ini menjadi andalan untuk menjajakan nasi ulam keluar masuk kampung saat itu. Tahun 1965 Cek Lam Seng menghibahkan usaha pikulan nasi ulam itu kepada ketiga pemikul tadi, dari pikulan beserta peralatan, modal untuk membeli bahan makanan beserta resep asli diserahkan oleh Cek ini kepada pegawainya untuk dapat mandiri meneruskan usaha ini.
Bapak Aheng salah satu dari ketiga pemikul tadi sempat berjualan nasi ulam di bilangan Pasar Ikan sampai akhir hayatnya, Pak Syarief sudah lama berhenti berjualan dan sekarang menjadi Kyai di jawa, tinggal Bapak Misjaya, yang sampai sekarang masih berjualan di Halaman Kelenteng Toasebio di Jalan Kemenangan III.
Bapak asal Tangerang ini sekarang sudah tak perlu memikul dagangannya , dengan dibantu 4 orang pegawainya, dia sekarang tinggal menunggu pelanggan-pelanggan setianya. Kalau diperhatikan, warung sederhana yang buka dari jam 4 sore sampai habis (biasanya sekitar pukul 10 malam) tidak pernah sepi dari pelanggan, baik dari umat yang sedang beribadah di kelenteng, masyarakat sekitar Jl. Kemenangan sampai pelanggan-pelanggan lama yang tinggal di berbagai penjuru Jakarta silih berganti mampir untuk mencoba nasi ulamnya. Tempat di halaman kelenteng juga dianggap strategis oleh beliau, ditambah lagi pihak kelenteng sampai saat ini tidak pernah menarik sewa untuk Pak Misjaya dapat berjualan di situ, malahan pihak kelenteng sering membantu beliau dalam banyak hal.
Tak heran bila beliau harus menyediakan 40 liter beras perharinya untuk melayani tamu-tamunya. Selain cerita sejarah dibalik Nasi Ulam yang sangat menarik seperti diceritakan di atas, rasa Nasi Ulam Pak Misjaya yang tiada duanya menjadi magnet untuk pelanggan-pelanggan setianya. Sebenarnya makanan ini sangat-sangat sederhana dari segi bahan yang digunakan , nasi putih biasa kemudian di beri beberapa jumput bihun goreng polos yang memakai bumbu sangat minimalis, lalu tambahan kacang tanah goreng yang dihaluskan, rajangan timun, daun kemangi segar dan digarnish dengan taburan bawang merah goreng, kerupuk merah, emping dan sambal, tapi itu belum semuanya, letak rahasia kelezatan Nasi Ulam ini sebenarnya ada pada kuahnya, nasi putih tersebut, sebelum diberi asesoris macam-macam tadi disiram kuah kaldu kuning kecoklatan yang benar-benar segar dan lezat. Nasi Ulam polos diatas masih bisa dinaikkan derajat kelezatannya dengan “side-dish” pilihan seperti semur telur/tahu/tempe/kentang, telur dadar, perkedel kentang , dendeng daging goreng dan cumi asin goreng. Dua yang terakhir menjadi “side-dish” favorit disini, dendeng daging (Pak Misjaya mempunyai pemasok terpercaya untuk dendeng ini) yang manis tapi empuk dan cumi garing asin yang berisi telor cumi paling banyak diminta pelanggan untuk menemani nasi ulamnya. Malahan untuk menghasilkan dendeng goreng yang sempurna, Pak Misjaya harus menggoreng sendiri, “kalau bukan saya yang goreng biasanya kurang enak dendengnya” begitu ujar Pak Misjaya.
Menarik, mungkin itu kata yang tepat untuk melukiskan rasa nasi ulam ini, nasi yang berpadu dengan kuah kaldu yang harum dan segar ditambah lagi dengan tekstur khas bihun goreng, rajangan timun dan kacang tanah halus benar-benar membuat indera perasa kita dimanjakan (ini termasuk mata, yang saat awal penyajian nasi ulam sudah dibuai dengan komposisinya yang aneka warna dan bentuk). Penambahan sambal menjadikan rasa nasi ulam ini menjadi komplet, asin, manis dan pedas. Belum lagi rasa khas dari masing-masing side-dish yang disediakan.
Bisa dibilang pengaruh budaya-budaya luar sangat penting dalam pembentukan karakter kota Jakarta, hal tersebut juga dapat dirasakan pada masakan nasi ulam ini. Dalam piring tersebut bercampur pengaruh-pengaruh kuliner luar seperti kacang tanah halus, bihun dan cumi asin yang merupakan pengaruh cina, pengaruh Belanda pada “side-dish” aneka semur (dari masakan belanda “Smoor”) yang berdampingan secara serasi dengan bahan local seperti daun kemangi, kerupuk dan emping.
Hal yang lebih mengagumkan lagi, makanan yang lezat dan bersejarah ini sangatlah bersahabat dari segi harga. Nasi Ulam polos dibandrol 4000 rupiah, side-dish semur tahu, tempe dan kentang dihargai seribu rupiah, semur telur dan telur dadar seharga 1500 rupiah dan yang paling mahal dendeng goreng manis dan cumi asin goreng dapat dibeli seharga 2000 rupiah. Tidak sampai sepuluh ribu rupiah anda sudah bisa puas makan disini, selain kenyang anda juga menikmati sejarah kuliner berusia puluhan tahun. Usahakan makan di tempatnya, anda bisa sambil berkhayal seperti apa tenpat ini puluhan tahun yang silam dan juga puluhan tahun yang akan datang.
Saya berharap dalam khayalan saya, puluhan tahun yang akan datang masih bisa mengajak anak-cucu untuk menikmati lezatnya nasi ulam ini, seperti Cek Lam Seng yang berbuat baik meneruskan usahanya, semoga Pak Misjaya juga dapat menemukan cara untuk melestarikan kekayaan kuliner yang satu ini.
   
William Kafe Artistik Belajar Masak Sajian Vietnam
Kafe bukan hanya sebagai tempat kongko dan santap yang asyik. Tempat ini cukup pas untuk dipakai lokasi kursus masak bagi para pencinta kuliner. Lihat saja, apa yang dilakukan William Kafe Artistik. Pada 6-7 Februari lalu kafe ini menggelar Kelas Masak Vietnam yang dipandu oleh Christiane de Reviers, seorang Vietnam. Pesertanya, lebih dari 20 orang.
William Wongso - pakar kuliner dan pemilik William Kafe Artistik - menjelaskan karakteristik masakan Vietnam yang punya rasa atau tekstur yang berdiri sendiri dan berlapis. Ini sangat berbeda dengan masakan barat yang rasanya dibuat harmonis. Rasa masakan Vietnam juga dibantu oleh herbal aromatik seperti mint, daun ketumbar, daun perilla, daun ngo gai, daun bawang, daun la lot dan lainnya yang dipakai di semua masakan Vietnam. Utamanya, Vietnam Selatan yang punya lebih banyak varietas.
Tekstur juga merupakan suatu hal yang penting dan didapat dari penambahan kacang-kacangan sanggrai. William juga menerangkan soal proses pembuatan Banh Trang - semacam kulit lumpia dari tepung beras. Bahan ini dikerjakan oleh usaha rumahan yang setiap harinya dikumpulkan oleh koperasi. Tiap keluarga menghasilkan 1.000 lembar dan meningkat sampai 2.000 lembar saat hari raya seperti Tet. Masakan Vietnam yang sangat sedikit memakai minyak juga baik untuk kesehatan. Bahan penting lainnya adalah Nuoc Mam (kecap ikan). Bahan ini dibuat dengan menaruh ikan-ikan kecil dan garam buatan sendiri dalam sebuah tong dan didiamkan selama tiga bulan. Lalu cairan yang terbentuk diambil dan didiamkan kembali selama tiga bulan. Kemudian disaring dan dibotolkan. Nuoc Cham dipakai untuk memberikan rasa asin dan bau khas tanpa merusak rasa asli dari makanan. Yang paling terkenal datang dari Pulau Phu Quoc di Vietnam Selatan dengan kejernihan dan rasa nomor satu, biasanya diberi label ngon atau thuong hang.
Masakan Vietnam menerapkan konsep lima rasa yaitu asin, pedas, manis, asam dan pahit yang biasanya didominasi oleh dua rasa utama. Rasa pedas didapatkan dari merica hitam dan cabe, lalu asam dari jeruk nipis dan asam jawa, manis oleh gula pasir, asin dari Nuoc Cham dan pahit dari bakaran daging.
Masakan yang diajarkan Madam Christiane antara lain Cha Gio (Lumpia Goreng), Bahn Xeo (Crepe gurih), Can Chua Ca (Sup Ikan asam segar), Goi Cuon (Lumpia Segar), Bun Bo(Daging Bakar dan Bihun saus asam), Pho Hanoi, Salad Papaya Muda dengan Udang. Cha Gio dibuat dengan mencampur adonan isi berupa bihun, bawang putih cincang, bawang merah cincang, bawang bombay cincang, daun bawang kecil bagian hijaunya dicincang, serutan wortel, jamur kuping iris, udang rebus, daging kepiting rebus (air rebusan yang ada dalam kepala bisa disertakan) dan ayam rebus dalam wadah. Lalu ditambahkan nuoc mam, merica hitam dan kocokan telur dan diaduk rata. Dalam air hangat rendam Banh Trang satu per satu sampai agak lunak dan keringkan dengan kertas tisu dapur, lalu diisi dengan adonan di atas.
Dengan sedikit minyak, Cha Gio digoreng sampai matang dengan api kecil (teknik shallow fried) lalu tiriskan, saat menggoreng lipatan Banh Trang ditaruh di bagian bawah terlebih dahulu yang fungsinya untuk menutup kulit agar adonan isi tidak berantakan. Cha Gio dihidangkan dengan saus Nuoc Cham dibuat dengan Nuoc Mam, air, bawang putih cincang, air jeruk nipis dan gula serta ditambahkan serutan wortel untuk menghilangkan rasa amis dari Nuoc Mam. Dimakan dengan membungkus Cha Gio dan herbal aromatik dengan daun lettuce lalu dicelupkan ke saus Nuoc Cham.
Kulit Bahn Xeo dibuat dengan mencampur tepung beras, kunyit bubuk, tepung maizena, air, santan kental, sedikit garam dan merica hitam bubuk, ini dapat dibuat satu hari sebelumnya dan disimpan dalam lemari es. Untuk membuat crepe dalam wajan datar kecil diolesi sedikit minyak dan dipanaskan, lalu tuang satu sendok sayur adonan kulit. Lalu setelah sisi bawah matang, di balik dan diisi dengan tauge segar, udang rebus, tumis bawang bombay, ayam rebus iris, jamur kuping iris dan irisan daun bawang yang bagian hijaunya, ditutup kulitnya dan siap disajikan.
Bahn Xeo biasanya dipotong sedang sekitar 5x5 cm lalu dimasukkan dalam daun lettuce dengan tambahan daun ketumbar, timun dan daun bawang lalu dicelupkan dalam Nuoc Cham. Makanan Vietnam Selatan ini lahir akibat pengaruh India pada abad ke-14 yang diinspirasi Dosa, crepe gurih khas India.
Cara membuat Canh Chua Ca adalah dengan mendidihkan air lalu ditambahkan jahe yang dimemarkan, Nuoc Mam, cabe rawit merah iris, bawang putih cincang dan bawang bombay iris. Setelah air mendidih masukkan potongan ikan seperti kakap merah atau tenggiri. Setelah ikan matang, ambil potongan ikan dan pisahkan daging ikan dari tulang, kaldu ikan yang ada disaring dan ditambahkan potongan nenas muda, potongan tomat tanpa biji, dan air asam jawa, bisa juga ditambahkan potongan belimbing sayur. Untuk menyajikan dalam mangkuk ditaruh potongan ikan daun robekan daun lettuce lalu disiram kaldu ikan, perasan jeruk nipis dan taburan daun ketumbar. Masakan khas Vietnam Selatan ini bercita rasa pedas, asam, manis dan gurih ditambahkan dengan wangi herbal dari daun ketumbar, biasa disajikan dengan nasi putih.
Bun Bo dibuat dengan memanggang daging iris yang sudah direndam minimal satu jam dengan irisan halus sereh (bagian putihnya), bawang putih halus, bawang merah halus, gula pasir, merica hitam bubuk, minyak wijen, Nuoc Mam dan irisan halus daun jeruk purut. Dianjurkan agar memanggang dengan bakaran atau wajan tanpa lapisan untuk mendapatkan aroma bakaran yang khas. Dalam mangkok taruh robekan lettuce, irisan timun, serutan wortel, daun ketumbar dan daun mint, lalu tambahkan, daging bakar dan ditaburi daun ketumbar, cabe merah iris dan kacang sanggrai tumbuk, dimakan dengan dicelup dalam Nuoc Cham.
Menurut William Wongso, kelas masak semacam ini yang dimulai dua tahun lalu diadakan untuk membuka wawasan dan menumbuhkan passion mengenai makanan dari seluruh dunia baik bagi masyarakat umum, industri restoran dan media. Rencananya dalam waktu dekat akan diadakan lagi kursus masak dengan mengambil tema lain seperti Bali, Korea dan Ambon. (arie parikesit, pemerhati kuliner)
Adalah Cairan Seperti Embun Termanis dari Surga
 |
| Arie Parikesit |
| Lu Yu, cendekiawan Cina dari abad ke–8 , menggunakan kata–kata di atas untuk mendeskripsikan minuman teh dalam bukunya "Cha`a Cing" atau "The Classic of Tea" yang ditulis pada tahun 780, literatur pertama mengenai minuman ini. Teh sebagai minuman sendiri ditemukan sekitar tahun 2737 sebelum masehi oleh Kaisar Shen Nung dari Cina. Saat itu kaisar yang juga disebut sebagai Bapak Tanaman Obat–obatan Tradisional Cina saat itu secara tidak sengaja meminum seduhan teh hasil dari daun teh kering yang jatuh di air panas yang akan diminumnya. Melihat air panasnya berubah warna menjadi merah keemasan dan aroma yang begitu semerbak, Sang Kaisar mencoba menghirupnya dan saat itu dirasakan jauh lebih enak dari air panas yang biasa diminum, sejak itu teh mulai dibudidayakan di Cina.
Teh sendiri masuk ke Indonesia pada tahun 1686 dibawa oleh seorang Belanda bernama Dr. Andreas Cleyer, lalu pada tahun 1728 pemerintah Belanda melalui VOC mendatangkan bibit teh dari Cina untuk dibudayakan di Pulau Jawa, setelah beberapa kali mengalami kegagalan akhirnya teh dibudidayakan di seluruh Indonesia melalui politik tanam paksa. Sekarang teh dibudiayakan oleh pemerintah dan pihak swasta, beberapa sentra teh yang penting adalah di daerah Jawa Barat, Jawa Tengah,
Selain enak diminum, teh juga dipercaya mempunyai khasiat–khasiat tertentu seperti meningkatkan kekebalan tubuh dan menghentikan efek radikal bebas (terutama pada teh hijau yang memilikin kandungan polyphenol yang tinggi), mencegah kanker, menurunkan kadar kolesterol dalam darah dan menurunkan resiko penyakit jantungd dan stroke (terutama teh hijau), meningkatkan metabolisme lemak dalam tubuh (khususnya teh Pu–erh dari Cina), dan masih banyak lagi khasiatnya untuk kesehatan.
 |
| Arie Parikesit |
| dari kiri ke kanan: Jasmine tea Tong Tji, Green Tea Goal Para, Konacha | Pembagian jenis teh sendiri cukup banyak versinya, yang paling umum adalah teh dibagi menjadi kategori teh hitam (disebut juga teh merah di Cina), teh hijau, teh oolong, dan teh pu`erh. Teh hijau dibuat dengan mengeringkan daun teh baik dengan memanaskan dalam oven atau dikukus lalu digulung dan dibiarkan mengering, teh jenis ini menyimpan paling banyak zat polyphenol yang baik untuk kesehatan dan paling sedikit kandungan caffeinnya.
Teh hitam adalah teh yang dbuat dengan proses oksidasi yang lama, daun teh dilayukan lalu digulung dan mengalami proses oksidasi, lalu dipanaskan untuk mengehentikan proses tersebut sesuai dengan keinginan si pembuat teh. Teh hitam paling kuat aroma dan rasanya, warnanya pun paling pekat dibanding dengan jenis teh yang lain. Lalu ada teh oolong, yang baik proses, warna dan aromanya ditengah–tengah antara teh hijau dan teh hitam, teh oolong mengalami proses oksidasi yang singkat, aroma berbau sedikit asap dapat dicium saat menyeduh teh ini, teh Oolong Gung Fu adalah salah satu jenis yang banyak dicari Jenis Teh Pu`erh datang dari kota bernama sama di propinsi Yunnan, Cina.
Teh ini sangat unik, berbau campuran cendawan dan tanah yang sangat kuat akibat dari proses penuaan yang memakan waktu puluhan tahun (beberapa teh Pu`erh yang ada di pasaran berumur sampai 50 tahun), teh ini juga mempunyai khasiat untuk menurunkan kolesterol dan berat badan.
Jenis teh lainnya yang kurang dikenal adalah teh putih yang hanya diproses secara minimalis, daun teh yang dipakai masih diselimuti semacam rambut berwarna putih. Lalu ada teh yang ditambahkan rasa (flavored tea) campuran antara daun teh dengan serpihan bunga, buah–buahan dll, salah satu yang terkenal adalah Earl Grey Tea yang diberi aroma bergamot, semacam aroma citrus yang segar. Jenis teh terakhir yang sebetulnya bukan dari tumbuhan teh (Cammelia Sinensis) tapi dari bunga–bungaan, spice, atau buah–buahan yang lebih tepat disebut infusion. Infusion yang sering dikonsumsi antara lain Chamomile dari bunga Chamomile yang dipercaya mampu membuat tidur lebih nyenyak, lalu Mint Tea dari daun spearmint yang dipercaya mampu membuat tubuh segar dan mengobati sakit perut.
 |
| Arie Parikesit |
| Teh hitam dan teh hijau adalah dua jenis teh yang banyak dikonsumsi di Indonesia, teh hitam sendiri jauh lebih banyak dikonsumsi dan para produsen teh pun menambahkan tambahan bahan lain seperti melati (jasmine tea) dan vanili untuk lebih menyesuaikan rasa sesuai selera orang Indonesia. Teh melati Indonesia boleh dibilang mempunyai kualitas paling baik di dunia, aroma melati yang khas mampu membuat jenis teh ini menjadi salah satu teh yang paling banyak dinikmati di Indonesia.
Dari jenis teh hitam salah satu yang menjadi kegemaran para penikmat teh adalah Darjeeling Tea dari kota bernama sama yang terletak di kaki pegunungan Himalaya di India, teh yang sangat disanjung para penikmat teh di seluruh dunia ini bahkan dijulungi sebagai "Champagne"nya teh. Aroma aromatik yang menyenangkan dengan sedikit aroma asap dapat dicium dari seduhan teh ini , setelah diminum rasanya yang kompleks agak sedikit pahit menjadi pengalaman tersendiri, teh ini enak diminum tanpa penambahan apapun, dengan susu atau gula, boleh dibilang "Himalaya in a Cup". Jenis teh ini juga nikmat dibuat Chai Masala atau Indian Spice Tea, tinggal ditambahkan susu, gula, cengkeh, kapulaga (cardamom), biji merica hitam dan kayu manis. Walau Chai Masala pertama kali diciptakan untk mengusir dingin di daerah pegunungan India, Chai Masala ini tetap nikmat diminum dimana pun.
Dengan khasiatnya yang begitu banyak, rasa dan aromanya yang sungguh menarik, dan harganya yang terjangkau, sudah saatnya anda mulai menikmati teh dan merasakan khasiatnya, mulai sekarang.(*)    
| |